Kekasihku.

Kekasihku....


Dia tidak pandai membuatkan aku surprise. Dia tidak ahli membuat kejutan-kejutan romantis. Dia bukan seorang yang punya kemewahan, yang tiba-tiba muncul didepan rumah membawakan bunga atau boneka sambil bernyanyi lagu cinta. Tapi dia akan selalu berusaha melakukan apapun untuk membuatku bahagia. Segala yang dia punya dia berikan padaku, dia sudah melalukan apapun yg terbaik yang dia bisa dan segala yang dia lakukan hanya untuk membuat aku tidak pernah kekurangan lagi. Itu yang jiwaku inginkan.

Dia bukan seorang yang memiliki kelimpahan ide romantis. Bukan dia bukan seperti itu. Tapi dia selalu punya cara untuk membuatku tersenyum. Dia akan bahagia ketika aku merasa bahagia dan dia akan kesal ketika aku merasa tidak bahagia. Dia orang yang positif yang benci melihat air mata ku. Dia marah pada dirinya ketika itu terjadi. Dia akan selalu membuat ku merasa luar biasa. Yah, aku selalu merasa hebat karna dia selalu mengatakannya.


Kita bertemu di bulan Agustus 2016 di Gereja. Waktu itu aku dalam proses pemulihan pasca sedot cairan di paru paru sebelah kanan. Aku masih harus rutin minum obat, vitamin hingga 6 bulan kedepan. Aktivitas pada waktu itu sudah berjalan baik. Aku tidak pernah memiliki selera untuk makan bahkan selalu sengaja ku sisihkan untuk seorang teman. Kemudian 'ntah apa yang terjadi, sejak aku bertemu dengan dia selera makanku berubah. Ntahlah. Aku tidak dapat pastikan apakah karna kehadirannya atau karna sedang alami phase mendambakan makanan yang luar biasa setelah lama sakit. Berat badanku naik dratis dari 44 hingga 58 dalam jangka waktu beberapa bulan saja.   

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana dia memandangku pertama kali saat aku sadar dia menyukai ku. Tatapannya seakan meronta mengatakan aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Aku merasa kalau dia memerlukan aku untuk melengkapi kekosongan yang ada pada dirinya.


Aku bertanya padanya pastilah dia bahagia ketika aku mengatakan IYA untuk menjadi kekasihnya. Dia menjawab sangat bahagia. Saat ini membayangkannya saja aku sungguh bahagia. Aku bersyukur menerima dia menjadi kekasihku saat itu meski bahagiaku tak sebesar dia. Namun ternyata selama ini aku sangat bahagia bersamanya .

(Kekasihku tak suka brokoli dan teri nasi tapi aku sering memasak untuknya atau sengaja membelinya meski ku tahu dia tak suka. Mana tahu dia bisa suka HiHiHi...)

Comments

Popular posts from this blog

Komitmen hidup minimalis?

HARI PERTAMA MULAI GAYA HIDUP MINIMALIS